Pengangguran dan Urgensi Pendidikan Kewirausahaan

0
63

Oleh:
Imam Syafei, S.Pd., M.MPd*)

Imamsyafei.com – Salah satu persoalan klasik yang menjadi penghambat pertumbuhan ekonomi adalah pengangguran. Pengangguran menjadi momok yang begitu mengkhawatirkan bagi negera-negara di dunia termasuk Indonesia karena dampak yang ditimbulkan dapat mengganggu kehidupan berbangsa dan bernegara. Sebab, seseorang yang terus menganggur dapat melakukan berbagai tindakan melawan hukum seperti pencurian atau prostitusi demi bertahan hidup.

Bedasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pengangguran terbesar justru terjadi pada kelompok anak muda. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) pada penduduk usia 20-24 tahun sebesar 17,66% pada Februari 2021, meningkat 3,36% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 14,3%.

Peningkatan TPT pada kelompok usia ini menjadi yang terbesar dibanding kelompok usia lain. Peningkatan TPT terbesar kedua ada pada penduduk usia 25-29 tahun. Pada Februari 2021, TPT kelompok usia ini sebesar 9,27%, meningkat 2,26% dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar 7,01%.

Data kenaikan pengangguran di kalangan anak muda harus menjadi perhatian bersama terutama pihak pemerintah. Pemerintah dan pihak terkait harus sigap mencari jalan keluar dari persoalan ini. Salah satu tawaran yang dapat dilakukan adalah dengan memperbanyak jumlah wirausaha baru.

Di era digital saat ini, eksistensi wirausaha semakin dibutuhkan karena kontribusinya yang sangat besar dalam meningkatkan taraf perekonomian masyarakat dan menekan angka pengangguran. Sebagai contoh, Amerika Serikat, Jepang, Singapura dan Korea Selatan adalah beberapa negara yang pertumbuhan ekonominya ditopang oleh wirausaha.

Jumlah pengusaha di Indonesia masih terbilang rendah. Data paling anyar dari Global Entrepreneurship Index (GEI) menunjukkan Indonesia berada di peringkat 74 dari 137 negara dengan nilai 26. Rasio kewirausahaan nasional pada 2019 sebesar 3,3%. Angka tersebut masih lebih rendah dibandingkan dengan beberapa negara tetangga di kawasan Asean, seperti Malaysia yang mencapai 4,74%, Thailand 4,26%, dan Singapura 8,76%.

Sinergitas

Melihat kenyataan bahwa lapangan kerja yang ada tidak memungkinkan untuk menyerap seluruh lulusan perguruan tinggi di Indonesia, maka generasi muda yang notabene adalah lulusan perguruan tinggi perlu didorong untuk berwirausaha. Upaya untuk mendorong hal ini mulai terlihat di lingkungan lembaga pendidikan khususnya perguruan tinggi.

Pendidikan kewirausahaan di lembaga pendidikan sangat penting sebagai wadah untuk mengubah pola pikir generasi muda dari karyawan menjadi wirausaha (entrepreneur). Dengan begitu, mereka dapat berkontribusi dalam menciptakan lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat luas.

Menurut Hilyati Milla (2013), pengembangan kewirausahaan dipandang sebagai langkah strategis dalam upaya mengatasi permasaalahn ekonomi bangsa. Pertumbuhan ekonomi digerakkan oleh adanya aktivitas ekonomi yang dijalankan oleh kalangan wirausaha.

Keberhasilan mencetak wirausaha melalui jalur pendidikan membutuhkan langkah-langkah konkret seperti memposisikan perguruan tinggi sebagai pusat kewirausahaan, merancang kurikulum yang jelas, menetapkan metode yang sesuai, memilih tenaga pengajar yang memiliki kompetensi dalam bidang kewirausahaan, menciptakan atmosfer kewirausahaan dan merancang proses pembelajaran berkelanjutan.

Hal lain yang juga sangat penting, pendidikan kewirausahaan ini perlu dukungan semua pihak, baik pemerintah, pelaku usaha, lembaga pendidikan maupun masyarakat. Tanpa sinergitas antarpihak, maka berbagai upaya untuk mencetak wirausaha-wirausaha baru sangat sulit diwujudkan.

*) Penulis adalah Ketua Yayasan Pendidikan Tinggi Imam Syafei Bandung dan Ketua Gema Ormas MKGR Jawa Barat

*) Tulisan / artikel opini ini sepenuhnya tanggungjawab penulis

LEAVE A REPLY